Debat terakhir Capres 2019

Debat terakhir capres-cawapres resmi dibuka dan, calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno, menyebut tema debat kali ini adalah ‘referendum ekonomi’, sedangkan calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo, memamerkan sejumlah kartu.

Pemaparan ini terungkap saat kedua paslon menyampaikan visi-misi mereka.

‘Referendum ekonomi’ yang disebut Sandiaga menyambut perkataan pasangannya, Prabowo Subianto, bahwa “rancang bangun ekonomi kita tidak jelas”.

Seperti yang sudah dituturkan dalam berbagai kesempatan, Prabowo menegaskan ” kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri” dan “terjadi de-industrialisasi”.

Sementara itu, Jokowi mengaku dirinya dan Jusuf Kalla “telah berjuang keras” agar “tidak bertumpu kepada pertumbuhan ekonomi saja tetapi juga bertumpu kepada pemerataan.”

Pemerataan yang dimaksud Jokowi adalah pembangunan infrastruktur yang tidak Jawasentris.

Jokowi mengklaim telah memperjuangkan kemandirian ekonomi dengan mengambil alih sumber daya strategis yang sebelukmnya dikelola asing, Blok Mahakam, Blok Rokan, dan juga Blok Freeport.

Di bidang kesejahteraan sosial, Jokowi kembali memamerkan berbagai kartu, semisal Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat (KIS), dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Yang terkini adalah KIP Kuliah, Kartu Pra-kerja, dan Kartu Sembako Murah.

Prabowo: ‘Kenapa fokus ke infrastruktur? Jokowi: ‘Nggak mungkin langsung membalikkan tangan’

Prabowo bertanya ke Jokowi yang sudah berkuasa selama 4,5 tahun, “Kenapa mengizinkan impor? Petani hancur. Kenapa tidak melakukan industrialisasi, tetapi difokuskan infrastruktur?”

Prabowo mempertanyakan pula mengapa Jokowi mengizinkan menteri-menteri menerima komoditas asing masuk ke Indonesia dengan begitu pesat dan begitu gampangnya.

Jokowi menjelaskan bahwa infrastruktur yang sedang dibangun akan terhubung dengan kawasan-kawasan industri, kawasan-kawasan pariwisata sehingga dapat menggerakkan ekonomi.

Jokowi menegaskan, “nggak mungkin langsung membalikkan tangan”.

Dia mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur merupakan tahap besar pertama. Selanjutnya, Jokowi mengatakan, akan berfokus pada pembangunan sumber daya manusia.

Prabowo kembali merespons. Dia menegaskan tidak menyalahkan Jokowi terkait Indonesia yang, menurutnya, “salah jalan”.

“Jadi saya tidak menyalahkan bapak karena ini kesalahan besar presiden-presiden sebelum bapak. Kita semua harus bertanggung jawab. Benar, itu pendapat saya,” cetus Prabowo.

Kedua paslon belum mampu jelaskan hilirisasi dan industrialisasi

Hilirisasi dan industrialisasi, menurutnya, adalah masalah vital yang harus dibicarakan kedua belah pihak. Namun, kata Esther,kedua pihak belum mampu menjelaskan tentang bagaimana mereka dapat melakukan hal itu.

“Yang harus digarisbawahi itu ‘How to achieve’, tahapan yang jelas dan teknis…. Solusi strategis memang seharusnya demikian, tapi realisasi seperti apa?” ujar Esther. 

Esther mengatakan sampai sekarang ini, pemerintah Indonesia belum bisa menarik investasi karena keterbatasan infrastruktur dan kompleksnya aturan untuk melakukan investasi asing. Indonesia, katanya, tertinggal dari Malaysia, China, dan Singapur dalam menarik investasi asing. 

Esther menambahkan industri-industri di Indonesia juga masih bergantung pada bahan-bahan impor dan jarang mengekspor barang-barang jadi. 

Ekonomi digital vs fokus pada kebutuhan pangan

Jokowi mengajukan pertanyaan kepada paslon Prabowo-Sandi mengenai cara mengembangkan ekonomi digital.

Sandiaga awalnya mengatakan bahwa pemerintah harus memfasilitasi karena tidak terlalu bisa meregulasi sesuatu yang sangat cepat berkembang.

Jokowi menanggapi bahwa pemerintahan yang dipimpinnya telah memfasilitasi dengan membangun infrastruktur digital, seperti Palapa Ring.

Pernyataan Jokowi ini dibalas Prabowo yang menyebutkan bahwa “digital-digital itu bagus, tapi rakyat kita butuh swasembada pangan” sehingga akan lebih baik berfokus pada “hal-hal yang mendasar yang menjawab kebutuhan pangan rakyat Indonesia”.

Karena itu, timpal Sandiaga Uno, dirinya dan Prabowo bakal menerapkan ‘big push strategy’ atau strategi dorongan besar berupa yaitu swasembada pangan.

“Swasembada pangan ini kita dorong proses produksi kita, pupuk dilancarkan, para petani bisa mendapatkan bibit, bisa mendapat obat-obatan yang murah, dan stop impor saat panen.”

Janji Prabowo lebih membumi dibandingkan program digital economy Jokowi’

Program digital economy yang didengungkan Jokowi sepanjang debat, dalam pengamatan Esther, memang penting. Tema itu, katanya, kemungkinan memang ditujukan untuk menarik suara kaum milenial. 

Tapi, kata Esther, janji stabilitas harga yang diangkat kubu Prabowo lebih membumi dan mengena ke masyarakat, terutama mereka yang hidup di pelosok-pelosok negeri. 

Petani yang hidup di desa, contohnya, kata Esther, mungkin sudah sangat bersyukur untuk memiliki telepon genggam. 

“Digital economy itu hanya untuk sebagian masyarakat. Stabilitas harga lebih mengena,” katanya. 

‘Ibu-ibu yang mengeluh harga-harga naik’

Beberapa kali cawapres nomor urut 02 menyebut nama-nama orang di berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, ibu Mia di Tegal mengeluh bahwa biaya tagihan listriknya tadinya Rp300-400 ribu, sekarang sudah di atas.

“Ibu-ibu di seluruh wilayah Indonesia bahwa saya selalu tanya, ‘harga listrik turun atau naik?’ ‘Naik’. ‘Bagaimana dengan harga-harga bahan pokok, turun atau naik?’ ‘Naik’. ‘Belanja, murah atau mahal?’ ‘Mahal’,” papar Sandi.

Jokowi menanggapi bahwa “ini ekonomi makro, bukan ekonomi mikro yang sekali membangun langsung bisa jadi.”

“Nggak bisa juga seperti bapak tadi sampaikan, ibu ini, ibu ini. Ini mengelola ekonomi makro, agregat produksi, bukan hanya orang per orang seperti itu dijadikan patokan. Nggak bisa.”

Strategi realisasikan potensi ekonomi dan keuangan syariah Indonesia?

Cawapres nomor urut 1, Ma’ruf Amin, menjelaskan bahwa sudah dibentuk komite nasional keuangan syari’ah yang disebut KNKS dan diketuai oleh Presiden Jokowi.

Lembaga-lembaga keuangan syariah, tambah Ma’ruf, akan dikuatkan pelayanan dan produknya.

“Kami ingin mendorong agar industri halal sesuai dengan visi misi kami akan kami stimulis bukan hanya untuk dalam negeri tetapi juga untuk luar negeri,” ujarnya.

Dari kubu paslon nomor urut 02, Prabowo menilai ada keragu-raguan tentang pengelolaan dana-dana tabungan calon jemaah haji.

Karenanya, Prabowo mengaku “ingin untuk membentuk bank tabung haji” yang dikelola secara modern syariah secara efisien, transparan, dan tidak disalahgunakan.

‘Kubu Jokowi lebih real dalam membahas perdagangan’ 

Dalam perdagangan internasional, menurut Zamroni, ada istilah balanced trade, di mana negara-negara umumnya tidak hanya akan melakukan impor, tapi juga ekspor. 

Ia menyebut, tidak ada negara yang hanya mau mengimpor tanpa mengekspor, dan sebaliknya. Hal ini lah, kata Zamroni, yang kurang dipahami oleh kubu Prabowo-Sandiaga yang terus menyuarakan “Stop Impor”. 

“Konsep perdagangan dunia itu two-way trade, ekspor-impor. Perdagangan itu harusnya seimbang,” kata Zamroni.  

Ia menambahkan, dalam debat itu Jokowi mencoba menjelaskan kondisi real dari upaya meningkatkan daya tawar petani dan nelayan. Di sisi lain, kata Zamroni, Prabowo menekankan tentang pentingnya  meningkatkan nilai jual produk-produk itu. 

Yang harus dimengerti, kata Zamroni, fungsi pemerintah adalah menjaga keseimbangan harga agar petani dan nelayan mendapat harga tinggi dan konsumen mendapat harga yang rendah. 

Zamroni mengatakan kubu Jokowi mencoba telah menjawab hal itu dengan menekankan kepada pentingnya pengembangan ekonomi digital, yang misalnya, dapat langsung menghubungkan petani dengan konsumen. 

Kebijakan itu, kata Zamroni, dapat mengurangi perantara (middle man), dan menciptakan harga yang layak. 

Dalam hal ini, kata Zamroni, kebijakan yang diberikan kubu Joko Widodo terlihat lebih nyata. 

Sandiaga: ‘BUMN dipolitisasi demi kepentingan penguasa’, Jokowi: ‘Ada satu dua tiga yang salah kelola’

Sandiaga bertanya, bagaimana strategi Jokowi menciptakan BUMN sebagai perusahaan kelas dunia lantaran ada serikat pekerja yangmerasa BUMN dipolitisasi demi kepentingan penguasa.

Jokowi mengungkap dirinya akan membangun sejumlah holding BUMN yang dikelompokkan sesuai bidang masing-masing, seperti konstruksi, migas, serta pertaniam dan perkebnunan.

“Nanti ada akan ada holding-holding yang di atasnya akan ada per holding”.

Prabowo kemudian mendebat pernyataan Jokowi dengan mengibaratkan BUMN sebagai benteng terakhir ekonomi Indonesia yang kini dalam keadaan goyah.

Prabowo merujuk studi media Bloomberg bahwa Garuda Indonesia baru bisa untung kalau penumpangnya 120%.

“Berarti ini tidak bisa untung kalau begini terus pengelolaannya. Jadi mau bikin holding. Holding-holding yang sekarang saja tidak dikelola dengan baik.”

Jokowi kemudian menanggapi dengan mempersilakan Prabowo mengecek berapa setoran deviden BUMN ke APBN. “Naik atau turun?” tanya Jokowi.

Dia menambahkan, BUMN-BUMN Indonesia mampu berkiprah. Dia mencontohkan aksi Pertamina yang mengelola Blok Rokan dan Blok Mahakam–kawasan yang dulu dikelola asing.

“Saya tidak mau membuka masa lalu BUMN-BUMN, tetapi memang ada satu dua tiga yang salah kelola. Itulah yang perlu kita perbaiki dan perlu kita kerjakan, bukan menyalah-nyalahkan mereka.”

‘Bagian dari elite 1%’

Cawapres Ma’ruf Amin menyitir ucapan Prabowo pada suatu kesempatan bahwa 1% elite menguasai terlalu banyak aset. “Dari sisi kekayaan, Pak Prabowo dan Pak Sandi ini mungkin juga termasuk di antara elite itu,” cetus Ma’ruf.

Prabowo, dengan nada suara yang meninggi, mengatakan dirinya tidak menutupi bahwa dia adalah bagian dari 1% elite.

“Tapi saya mengatakan, saya bagian dari 1% yang mengerti tanggung jawab saya untuk negara bangsa dan rakyat. Saya siap, jangankan harta kekayaan saya, jiwa dan raga saya saya siap berikan untuk rakyat dan bangsa saya. Jadi jangan dipermasalahkan saya yang selalu katakan saat bagian dari 1%.”

 Sumber BBC