Jenis Kopi Wine

Jangan bayangkan sepert wine-wine dari anggur di belahan negeri Eropa sana. Kalau minum sebotol dua botol bisa keleyengan. Ini wine beda. Lebih tepatnya hanya sekedar penamaannya saja. Bukan wine serupa wine anggur. Prosesnya adalah ceri kopi dipanen, lalu dihancurkan, kemudian diambil sarinya, lalu didiamkan di gentong kayu selama beberapa bulan, kemudian baru dinikmati. Begitu sangkaan proses pembuatan kopi wine. “Padahal sih bukan begitu”.

Kopi wine adalah jenis kopi yang berasal dari proses pasca panen yang diolah melalui proses fermentasi sehingga menghasilkan rasa unik menyerupai aroma wine. Karenanya, kopi wine atau coffee wine juga sering disebut kopi fermentasi.

Proses mengolah kopi wine tergolong berbeda dengan kopi lainnya. Pengolahan kopi wine dimulai dari pemetikan biji kopi yang telah matang, lalu diproses melalui salah satu metode pengolahan pasca panen, yakni metode kering atau metode basah. Dalam hal ini, kopi wine akan melalui proses fermentasi dengan metode kering (dry process/natural process) yaitu proses penjemuran langsung biji kopi utuh beserta buah dan kulit kopi hingga mengering secara alami di bawah sinar matahari.

Diproses menggunakan teknik fermentasi. Yaitu, dengan memasukan ceri kopi ke dalam tempat tertutup. Biasanya petani menggunakan karung plastik. Ceri kopi dimasukkan ke dalam kantung-kantung plastik untuk mengalami proses fermentasi sempurna. Beberapa petani mendiamkan ceri dalam tempat tertutup ini selama 30 – 60 hari. Semakin lama semakin sempurna hasil fermentasinya. Setelah difermentasikan, barulah dijemur hingga kering. Fungsinya fermentasi selama itu? Kalau pernah ke kebun kopi dan panen ceri paling merah, kemudian mencicipinya, itu ada aroma-aroma manis, begitu pun rasanya. Nah, ketika proses fermentasi, rasa-rasa di ceri merah ini secara perlahan meresap ke dalam biji kopi. Setelah meresap, lalu diikat aromanya di dalam DNA biji kopi, kemudian dijemur hingga mengering. Setelah mengering, barulah digiling untuk melepaskan kulit ceri yang sudah mengeras tadi. Setelah dilepaskan kulit cerinya, biji kopi akan dijemur lagi dan selanjutnya akan menuju proses roasting.

Dengan kata lain wine coffee juga bisa disebut dengan coffee fermented atau kopi yang mengalami proses fermentasi sebelum menjadi biji kopi. Lalu apakah semua kopi bisa diproses menjadi wine coffee? Berdasarkan ngobrol singkat dengan seorang petani asal Takengon (yang meminta tak disebutkan namanya), menurutnya kopi yang baik untuk diproses menjadi wine coffee adalah kopi yang ditanam di atas ketinggian at least 1500 mdpl. Kenapa harus di ketinggian tertentu, karena (katanya) semakin tinggi kopi ditanam maka akan semakin banyak getahnya. Sedangkan jenis kopinya bisa apa saja peaberry juga bisa asal kualitasnya baik. Ceri kopi yang dipilih haruslah ceri merah penuh dan memang harus siap panen betul.

Jenis kopi yang paling sering digunakan dalam pembuatan kopi wine di Indonesia adalah kopi Arabika Gayo dan Robusta Lampung. Walau kedua jenis kopi ini memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan harga kopi lain, tetapi kandungan rasa manis yang dimiliki serta kualitas kopi yang lebih baik menjadikannya bahan yang tepat dalam pembuatan kopi wine.

Yang perlu diperhatikan dalam mengolah kopi wine proses pengolahan kopi wine dibutuhkan ketelitian serta perhatian ekstra untuk mengolahnya agar tercipta rasa wine yang tepat dan sempurna. Kopi wine yang baik memerlukan proses fermentasi dengan sistem kontrol yang terukur, rotasi yang tepat, serta memiliki sirkulasi udara yang baik.

Setiap proses fermentasi kopi harus dilakukan secara tepat dan konsisten untuk memastikan kualitas kopi wine, termasuk proses bekam (biasanya di dalam plastik dan diikat). Selain itu, saat fermentasi sangat penting untuk memperhatikan waktu, suhu, dan kandungan pH berada dalam proses yang tepat serta memastikan kebersihan setiap peralatan yang digunakan. (Berbagai sumber)

Silahkan Berkomentar