Kesaksian “Jugun Ianfu” untuk Indonesia yang Sangat Pilu

Jugun Ianfu adalah istilah yang disematkan untuk para wanita yang dijadikan sebagai budak seks oleh pihak militer Jepang selama masa pendudukan. Kaum wanita pada saat itu benar-benar dilecehkan. Harga diri mereka sungguh dicabik-cabik oleh kekejaman para penjajah. Kehormatannya dirampok, setelah ‘rusak’, mereka pun dibuang begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban.

Di Indonesia sendiri terdapat kurang lebih 1.500 perempuan mantan Jugun Ianfu yang sebagian besar dari mereka telah berusia lanjut dan bahkan banyak yang sudah meninggal dunia. Perjuangan mereka untuk menuntut keadilan seakan bertepuk sebelah tangan dengan tidak adanya cukup dukungan dari pihak pemerintah Indonesia.

Mereka pun harus merasakan trauma mendalam selama sisa-sisa hidupnya. Berikut ini ada beberapa kisah dan kesaksian dari mantan Jugun Ianfu yang berhasil dikutip dari berbagai sumber.

Tidak ada yang tahu bahwa dirinya dulu pernah menjadi budak seks tentara Jepang. Selama masa suram itu, ia pun mendapat julukan sebagai Momoye yang mana merupakan panggilan bagi Jugun Ianfu yang dipekerjakan saat itu.

Tak banyak orang yang mengunjungi rumah Mardiyem. Ia benar-benar telah dilupakan, baik oleh negara maupun teman-temannya. Bahkan teman-teman sependeritaanya pun banyak yang sudah tiada.

Meski telah tua renta, namun sosoknya masih terlihat cantik. Wajah dan kulitnya terlihat putih. Pendengarannya pun masih tajam. Tidak ada yang berubah dari perempuan yang satu ini selain keriput yang semakin melebar dan gerakan yang semakin lamban.

Pada suatu sore Sumirah yang masih berusia 14 tahun tengah menyusuri Jalan Gendingan, Semarang, dengan mengendarai sepeda barunya. Namun, ketika berada di sana, ia melihat beberapa tentara Jepang sedang memakksa para perempuan muda untuk masuk ke dalam truk tentara.

Bukannya lekas menyingkir, Sumirah malah diam seribu bahasa. Dirinya tertegun, gemeter karena ketakutan. Tanpa disadari, seorang tentara Jepang telah berada di sampingnya dan memaksanya untuk ikut naik ke dalam truk.

Tanpa berdaya, Sumirah pun terpaksa mengikuti kemauan tentara Jepang tersebut dan meninggalkan sepeda barunya yang tergeletak di jalanan.

Ketika berada di dalam truk, para perempuan muda diberitahu bahwa mereka akan dipekerjakan sebagai seorang perawat, mendapatkan upah yang dapat mencukup segala kebutuhan mereka.

Para serdadu kemudian bertanya secara lantang, “Apakah semua mau pekerjaan ini?” Semuanya pun menjawab, “Mau!!!” Tak lama setelah itu, truk sampai pada sebuah bangunan yang bernama Semarang Kurabu.

Setiap orang diberi kamar masing-masing yang telah dilengkapi dengan sikat gigi, odol, serta minyak wangi. Setelah itu, mereka pun diperiksa kesehatannya oleh dokter Jepang.

Hari-hari berikutnya, para perempuan muda dipaksa untuk melayani nafsu bejat dari para tentara Jepang. Bila menolak, mereka akan dipukul, ditempeleng, hingga ditendang. Sejak hari itu, Sumirah beserta perempuan muda lainnya menjalani siksaan tersebut.

Selain harus melayani para tentara Jepang di Semarang Kurabu, Sumirah juga kerap kali harus melayani para perwira di Hotel Du Pavillion serta Hotel Oewa Asia yang letaknya tidak terlalu jauh dari Semarang Kurabu.

Perempuan asal Cimahi yang bernama Emah Kartimah memiliki nasib serupa. Ia dijadikan sebagai budak nafsu oleh tentara Nippon pada tahun 1942. Pada waktu itu, Emah masih berusia 13 tahun. Ia diculik oleh enam tentara Jepang saat tengah berbelanja di pasar. Ia pun ditarik ke mobil dan dimasukkan ke dalam barak tentara di Cimahi.

Selama tiga tahun Emah harus meladeni nafsu dari pria-pria dewasa. Jika melawan, para tentara tidak segan untuk memukul dan menendangnya. Beberapa perempuan di tempat itu pun merasakan hal yang sama.

Sementara itu Suhanah yang juga berasal dari Cimahi diculik dengan todongan pistol di kepalanya. Padahal saat itu ia masih berusia 14 tahun. Namun, tidak selama Emah, Suhanah hanya setahun menjadi budak nafsu tentara karena mengalami pendarahan.

Meski begitu, kondisi rahimnya sudah rusak parah dan harus diangkat. Sejak saat itu pula Suhanah dinyatakan tidak bisa memiliki keturunan.

Pada saat itu, napas Sri Sukanti yang telah berusia 79 tahun tersengal-sengal. Bicaranya tidak jelas. Beberapa kali ia pun terhuyung-huyung. Dengan sedu-sedannya, ia mengatakan, “Sumpah, saya tidak bohong, saya diperlakukan seperti kuda!”

Kesaksian dari Sri Sukanti merupakan satu dari 1.156 penyintas asal Indonesia, membuat semua suara penonton dalam acara Kick Andy menjadi sunyi. Sukanti yang dipapah oleh Eka Hindrati, peneliti independen isu Jugun Ianfu terus berbicara sambil bercucuran air mata.

Pada saat kejadian, Sukanti yang masih berusia 15 tahun dipaksa menjadi pemuas nafsu bejat tentara Jepang di Salatiga, Jawa Tengah. Ia mengalami siksaan seksual, membuat dirinya mengalami trauma seumur hidup tiap kali mengingat kejadian yang menyesakkan itu.

Sambil terbata-bata, ia mengatakan, “Saya disuntik 16 kali… Saya tidak pernah bisa punya anak… Jangan ada lagi yang seperti saya ya… Jangan ada lagi yang seperti saya ya… Jepang itu kejam… Ogawa itu…,” katanya kala itu.

Akibat penyiksaan yang diterimanya, ia mengalami kerusakan pada janinnya dan divonis tidak dapat memiliki keturunan seumur hidup. Sumber (keepo.me)

Silahkan Berkomentar